blocknotinspire.blogspot.com berisi Kumpulan Business Ethics, Business Tips, Inspire Spirit, Leadership and Culture , Love and Life, Management HR, Motivasi Spirit, Smart Emotion, Success Story, Tips Keuangan, Tips Marketing dan Tips Sehat Semoga Bisa Menjadikan Anda lebih SUKSES dari hari kemarin.
Kunjungi Versi Mobile KLIK http://blocknotinspire.blogspot.com/?m=1 atau ( KLIK DISINI )

Ketetapan Hati

Bertahun-tahun silam, ada seorang pemuda dari kota Malang Jawa Timur,  berbekal pendidikan kelas 6 SD pun tidak tamat, dia mencoba mengadu nasib ke ibukota, sesampai di Jakarta  dia mendapat pekerjaan sebagai seorang salesman di sebuah perusahaan sabun. 

Saat itu, film-film action kungfu dari Hongkong dan Taiwan sedang gencar masuk ke Indonesia. Karena merasa punya bekal ilmu kungfu, body menawan dan wajah yang oke, pemuda itu pun punya mimpi dan mencanangkan tekadnya, ingin menjadi seorang bintang film laga di Indonesia.

Waktu terus berjalan,  kegagalan yang lalu tidak menyurutkan langkahnya. Impian menjadi bintang film tambah menguat, bahkan target lebih besar ditancapkan, yakni ingin menjadi bintang film kungfu di Hongkong, persiapanpun dilakukan dengan lebih baik, Dari latihan fisik lebih keras dan doa pun mengiringi surat lamaran dengan foto-foto action yang di kirim ke perusahaan Eterna Film di Hongkong.


Desak Pembeli Dengan Menciptakan Urgensi

Pembeli sering disebut sebagi raja, karena itu seringkali mereka menunda-nunda kepastian pembelian tanpa menimbang perasaan kita yang kadang panas dingin dalam ketidakpastian itu. Sikap menunda itu sangat mengganggu sistem kerja dan performa penjualan kita. 
Harus ada yang ditempuh dengan benar, ketika kita memasuki status ’gantung’, dimana pihak pembeli tidak segera memberikan kepastian. Belum lagi ketidakpastian itu berupa penundaan yang mengarah kepada pembatalan seperti janji calon pembeli yang mengatakan akan menghubungi kita beberapa waktu kemudian. Janji akan menelepon kembali biasanya jarang menjadi kenyataan.
Dalam konsep menjual, ada sebuah prinsip bahwa anda tidak akan mendapatkan jika anda tidak memintanya. Jelas bahwa langkah proaktif menjadi sangat harus dikerjakan manakala berhadapan dengan calon pembeli yang senang ’menggantung’ rencana pembeliannya.
Ada 7 langkah strategis yang biasanya cukup bisa ’menggoda’ para pembeli yang suka ’menggantung’ rencana pembeliannya.


Kekuasaan Kata-kata

ANDA pasti ingat dengan kata-kata berikut ini;
”........., Mencuci Paling Bersih”,
”........., Berani Kotor Itu Baik”,
Apakah anda sudah membayangkan sebuah merek sabun detergen yang sangat familiar dengan pasar di Indonesia.
Berikutnya, apakah anda segera nyambung dengan kata-kata berikut ini;
”Terus Terang ...... Terang Terus”
Lalu, apakah yang anda ingat dengan kata-kata;
”Bukan Basa-Basi..”
”Apa kata Dunia..?”
”Bukan Telepon Biasa ..”
Saya yakin mayoritas dari anda, sanggup menebak merek-merek dagang atau institusi yang terwakili oleh kata-kata tersebut diatas. Pesona kata-kata diatas, tidak saja mewakili produk yang dipromosikan, tetapi juga membimbing kita untuk mempercayai pesan-pesan promosi tersebut.


Kekuatan Testimoni

Berikut ini saya cuplikan komentar tentang sebuah buku berjudul Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata.
Garin Nugroho –Sineas--, “Di tengah berbagai berita dan hiburan televise tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah. Sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam humanisme yang menyentuh. Dalam sebuah web, ini komentar beberapa pembacanya;
dr. ahmad hudoyo - laskar pelangi 2007-10-07 16:34:00 saya nonton kickandy di Metro-tv 2 x, teman2 juga saya sms spy nonton. Buku Laskar Pelangi harusnya dibaca setiap anggota DPR dan juga setiap Menteri dalam Kabinet SBY, supaya terinspirasi: bahwa "Anggaran Pendidikan 20%" memang tidak bisa ditawar.


Bergaul Dengan Stres

Teman saya menyebutkan kata ‘setres’, hampir pada setiap penutup alinea percakapannya: “setres deh gue...”, “ya ampuuun, setres nih...”, “hahaha...setres...”. Andaikata ia benar-benar bisa hidup dengan stres sedemikian enteng dan ‘gaya’, mungkin dia adalah orang yang paling bisa “bergaul” dengan stres. 

Banyak sekali orang mencari ketegangan seperti menonton pertandingan, dengan alasan melepas stres. Semakin stres semakin seru. Bahkan terkadang orang tidak segan membayar jutaan rupiah untuk merasakan ketegangan di ring tinju yang paling dekat dan  jelas. Namun, akan lain ceritanya kalau kita mengartikan stres sebagai keadaan “di bawah tekanan”. Tentunya kita bisa membayangkan ketegangan, kelelahan, kecemasan, depresi, rasa khawatir bahkan kemarahan.


Memberi

Di penghujung Ramadhan dan awal bulan Syawal, kita memang jadi lebih dekat dengan kegiatan memberi. Kegiatan seperti “sahur on the road”, pembagian zakat, hanyalah sebagian kecil dari kegiatan ’memberi’ yang bisa kita simak. Banyak orang yang memang menggunakan Ramadhan sebagai momentum untuk berbagi. Lihatlah bagaimana orang-orang berburu “uang  pecahan”, mencari posisi strategis untuk membagikan zakat, sehingga dalam masa ini tiba-tiba orang miskin menjadi titik perhatian. Bahkan, orang yang tidak terlalu miskin pun, rela-relanya menggunakan seragam tukang sapu jalanan sekedar untuk mendapatkan ‘pembagian’. 


Krisis

Saat menyaksikan jumpa pers ‘full team’ para pejabat eksekutif moneter Indonesia terkait dampak dan antisipasi krisis ekonomi global hari, Minggu (5 Oktober 2008) lalu, saya seketika teringat pengalaman dan perasaan luluh-lantaknya saya saat menghadapi krisis ekonomi tahun 1997-1998. Saya ingat betul, betapa saat itu hutang menjadi berlipat, suku bunga melonjak, order kerja merosot sampai ke titik nol, yang mau tidak mau berakibat pada pengurangan karyawan, kehilangan pekerjaan dan jatuhnya mental untuk waktu yang cukup lama. Pesan dalam jumpa pers kemarin bahwa pemerintah akan mempercepat reformasi ekonomi dengan perbaikan iklim investasi, perbaikan sarana dan prasarana, percepatan pengadaan listrik yang menjadi keluhan investor, dikomentari oleh media sebagai sesuatu yang klasik, abstrak dan membosankan. Tentunya kita jadinya bertanya-tanya, apakah reformasi ekonomi bisa menjadi jalan keluar ‘instan’ bagi gejala yang ‘akut’ seperti ini? Bukankah keadaan ini hanyalah bagai detonator sebuah depresi, baik kultural, gaya hidup, lingkungan, ekonomi dan politik?


Nothing is Free

Dalam sebuah seminar, pada waktu universitas negeri belum mandiri, seorang mahasiswa yang mengaku kuliah di sebuah universitas negeri besar mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada disiplin ilmu yang sedang ditekuninya dan berkeinginan sekali ‘pindah bidang’. Ia terkejut saat saya berkomentar bahwa ia sudah menyia-nyiakan uang Negara. Dengan telah membayar uang kuliah, ia merasa telah melunasi kewajibannya, tidak menyadari bahwa subsidi Negara begitu besar ke universitas-universitas negeri, sehingga uang kuliah yang dibayarkannya sebenarnya tidak masuk akal alias terlalu murah.


Gengsi

Saat saya bicara di dalam pelatihan-pelatihan bahwa feedback adalah hal yang unavoidable atau tak terhindarkan untuk perbaikan dan pengembangan diri, hampir selalu saja ada ‘curhat’ dari peserta mengenai banyaknya mereka menemui individu senior yang tidak welcome, sulit atau bahkan meradang saat menerima umpan balik. Saya menduga, bahwa salah satu alasan seseorang sulit menerima umpan balik mengenai kinerja, kesalahan dan pengembangan dirinya, terutama di negara kita ini, adalah lebih dilatarbelakangi gengsi yang besar. Kritik dipandang sebagai sesuatu yang menjatuhkan ‘muka’ dan menurunkan gengsi. Apalagi bila seorang senior berada pada situasi harus bekerja di bawah pimpinan yang lebih muda, pintar namun kurang pengalaman, bisa-bisa makin besar pula kadar gengsinya. Komentar seperti ‘anak kemarin sore’-lah, ‘belum pengalaman’-lah dan banyak alasan lain, seakan tidak memperbolehkan diri kita untuk melihat ke dalam dan berpikir mengenai kapasitas, kompetensi, kontribusi dan komitmen yang selama ini kita tampilkan, sehingga kita tidak dipilih  untuk menjadi pimpinan tim dan dilangkahi oleh yang lebih muda-muda.


Human Capital

Berapa persen dari fitur komputer atau telepon genggam yang selama ini Anda manfaatkan? Apakah sudah melewati 50%? Bila memang Anda memanfaatkan mesin tersebut sudah sampai 50%, saya yakin bahwa mesin tersebut sudah mulai terengah-engah ‘bekerja’ untuk Anda. Manusia pun ibarat mesin. Seorang ahli manajemen mengatakan bahwa energi dan kontribusi yang diaplikasikan seorang karyawan di perusahaan, hanyalah sebagian kecil dari kapasitasnya. Perumpamaan manusia vs mesin ini pun sangat mudah dicerna peserta sharing mengenai human capital. Bahkan kemudian sering terdengar olok-olok, seperti: “Mesinnya komplit, tetapi van-belt-nya hampir putus”, atau “Mesinnya sempurna tetapi tidak ada ‘colokan’-nya, jadi percuma mesin itu ada”.


Pabrik Talenta

Seorang guru pernah mengatakan pada saya bahwa mengasah manusia bekerja jauh lebih mudah daripada mengasuh-asah murid di sekolah. Alasannya, bibit yang masuk ke perusahaan adalah bibit-bibit pilihan, sementara yang masuk ke sekolah, masih tercampur aduk. Hal ini memang ada benarnya. Namun, teman saya ini lupa bahwa mengajar di sekolah ataupun di universitas, seperti yang saya alami sendiri, sangat dimudahkan oleh niat mahasiswa untuk belajar dan untuk lulus ujian, sehingga si pengajar biasanya lebih punya ‘power’. Di perusahaan, terasa betul betapa manusia dewasa ini punya pilihan untuk belajar ataupun tidak belajar, serta ingin menentukan cara belajarnya sendiri. Sarana pelatihan, “sharing knowledge” maupun seminar yang sudah susah-susah diupayakan dan diselenggarakan oleh perusahaan untuk mengembangkan talenta, tak jarang disepelekan. Sebagai fasilitator pelatihan di perusahaan, teman saya geleng-geleng kepala bila melihat sikap-sikap manusia dewasa yang terlihat tidak bersemangat lagi untuk belajar, seperti titip absen, banyak bercanda, datang terlambat, merayu trainer untuk menyelesaikan sesi lebih cepat, sibuk ber-sms, menelpon berlama-lama, ataupun sengaja memperpanjang-panjang waktu istirahat.


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More