blocknotinspire.blogspot.com berisi Kumpulan Business Ethics, Business Tips, Inspire Spirit, Leadership and Culture , Love and Life, Management HR, Motivasi Spirit, Smart Emotion, Success Story, Tips Keuangan, Tips Marketing dan Tips Sehat Semoga Bisa Menjadikan Anda lebih SUKSES dari hari kemarin.
Kunjungi Versi Mobile KLIK http://blocknotinspire.blogspot.com/?m=1 atau ( KLIK DISINI )

Batu Besar Di Sawah

Dikisahkan terdapat sebuah batu besar yang tertimbun di tengah sawah. Bongkahan batu itu sudah bertahun-tahun menyebabkan banyak kesulitan bagi Pak Tani dalam membajak sawahnya. Sering cangkulnya rusak gara-gara mengenai batu itu. Padi yang berada di sekitar batu itu pun tidak tumbuh dengan baik.

Suatu hari Pak Tani membajak sawahnya. Hari ini cangkulnya rusak lagi. Biasanya Pak Tani hanya kesal saja melihat cangkulnya sering rusak. Namun, kali ini Pak Tani berusaha mencoba memindahkan batu besar itu. Digalilah tanah di bawah batu tersebut.

Betapa terkejutnya Pak Tani setelah beberapa menit menggali, ternyata batu besar itu cuma setebal 10 cm. Sebenarnya batu itu bisa dihancurkan mudah dengan palu biasa. Kemudian Pak Tani menghancurkan batu itu dengan tersenyum senang. Ia sadar bahwa masalah yang selama bertahun-tahun menimpanya itu bisa terselesaikan dengan mudah dan cepat.


Nilai Diri Kita

Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek. Di dekat kaket tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:

“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 50.000!!” Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”

Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.


Masih Banyak Waktu Luang

Pada saat jam istirahat kantor, seorang karyawan muda dengan wajah gembira dan penuh semangat, sedang berjalan mendatangi temannya. Ia penasaran dengan temannya yang sedang duduk di bangku sendirian dan hanya memegangi HP di tangannya. Wajah temannya terlihat resah dan banyak masalah yang menjadi beban pikirannya.

“Ada apa, sepertinya banyak masalah yang sedang kamu hadapi?” Tanya karyawan itu pada temannya.

“Gini, aku tu lagi pusing, banyak sekali tugas-tugas yang belum aku selesaikan, bikin laporan, makalah, presentasi, dan kegiatan lainnya sesampai di rumah nanti.” Keluh kesah temannya.

“Ah, sepertinya kamu tidak sesibuk itu.” Jawaban singkat karyawan muda itu.

“Lho kok bisa jawab seperti itu?” heran temannya.


Jadikan yang terakhir bagi kelelahan Saudara selama ini

Capek berbisnis online?
Pernah tertipu?
Atau mendaftar yang mudah,tapi menjalankannya kembali tekor??

Memang sangat lelah......

# "terlebih lagi Mengejar 2 ayam dalam satu waktu,adalah hal yang sangat mustahil dilakukan"

Saudara,
maksud dari ungkapan diatas (#) mungkin saudara telah mengetahui sebelumnya, bahwa dalam melakukan sesuatu, hal mudah sekalipun tak akan berhasil bila tanpa fokus. Kesuksesan akan terwujud bila kita menyelesaikan dari satu peluang.

Mengambil peluang demi peluang tanpa fokus yang berarti, itu sama saja "berenang tanpa tahu daratan". akan lelah selamanya.


Diri Saya Dibentuk Oleh Orang Lain

Seratus kali setiap hari saya mengingatkan diri sendiri bahwa kehidupan dalam dan luar saya merupakan hasil kerja orang lain, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup, dan bahwa saya harus mengerahkan tenaga agar dapat memberikan ukuran yang sama seperti yang telah saya terima (Albert Einstein)


Diri kita saat ini, baik secara fisik maupun kepribadian, sikap dan karakteristik yang kita miliki, merupakan hasil pembentukan dari banyak orang sejak kita baru lahir. Ingatlah waktu kita masih bayi, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita sangat tergantung pada bantuan kedua orang tua kita atau perawat/pembantu yang turut merawat kita. Tanpa mereka, tidak mungkin kita hidup sampai sekarang. Bersyukurlah pada kedua orang tua, pembantu, perawat yang telah mengasuh dan melayani kita.


Malaikat Misterius

Sambil menyeka keringat yang mengucur di dahinya, Ibu Rahmah (Bukan nama sebenarnya) dengan tekun menyapu trotoar sebuah jalan raya. Tampak beban hidup yang sangat berat menggelayuti pundaknya yang kurus. 

Tak terasa air mata menggenangi pelupuk matanya saat teringat bahwa hari ini dia harus membayar uang sekolah anaknya yang sudah menunggak beberapa bulan. Tapi bagaimana mau membayar, sudah sejak tadi malam belum sebutir nasipun mengisi perutnya dan anak-anaknya.

Ibu Rahmah ditinggal mati suaminya dalam sebuah kecelakaan sehingga dialah yang harus menghidupi dua anaknya yang masih kecil dengan menjadi petugas kebersihan. Gaji harian yang diterima sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Ikan dan Air

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Kata Ayah kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.” 

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai, tahukah kamu dimana air? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, “Dimanakah air ?”


Bukalah Hatimu

Dikisahkan, ada seorang anak muda yang merasa dirinya tidak bahagia. Setiap hari, dari jendela kamarnya dia melihat taman dan pemandangan alam yang sangat indah, orang berlalu lalang, anak-anak bermain dengan gembira. Tetapi fenomena itu tidak membuat hatinya bahagia. Justru dia tidak mengerti, mengapa orang-orang di luar sana bisa tertawa-tawa bersama atau setidaknya menunjukkan wajah yang gembira.

Karena melihat keadaan di sekitarnya, hatinya yang hambar, terusik pada pertanyaan, "Apa rahasia bahagia?"

Demi mendapatkan jawaban tersebut, si pemuda memutuskan keluar dari kamarnya dan mulai bertanya kepada siapa saja yang mungkin bisa memberi jawabannya.

"Maaf Pak, saya mau bertanya, dari mana bahagia itu?" tanyanya kepada seorang bapak yang tampak gembira melihat anak-anak yang sedang berlarian.


Jendela Rumah Sakit

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama 1 jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.


Masih Ada Hari Esok

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.

Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.” Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”


Noda di Atas Kertas Putih

Di sebuah desa, tinggal sebuah keluarga bersama Anak tunggal mereka. Karena dimanjakan sebagai anak semata wayang, Si Anak menjadi suka bersikap ‘semau gue’.

Anak ini sangat pandai mencari-cari dan menunjukkan kesalahan orang lain, kepada kawan bahkan kepada orangtuanya sendiri. Bahkan, dia suka mempermalukan orang yang berbuat salah walaupun tanpa sengaja.
Suatu hari, karena kurang hati-hati, anak tersebut terjatuh! Dia berteriak ke Ayahnya, “Aduh, Ayah sih meletakkan ember di sembarang tempat. Aku jadi terjatuh. Sakit nih!”

Ayahnya menolong sambil berkata, “Bukan salah Ayah. Ember itu setiap hari berada di tempatnya, kamu yang tidak berhati-hati sehingga terpleset dan jatuh. Kalau jalan, hati-hati dong." Sambil bersungut-sungut, Si Anak pergi begitu saja.


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More