blocknotinspire.blogspot.com berisi Kumpulan Business Ethics, Business Tips, Inspire Spirit, Leadership and Culture , Love and Life, Management HR, Motivasi Spirit, Smart Emotion, Success Story, Tips Keuangan, Tips Marketing dan Tips Sehat Semoga Bisa Menjadikan Anda lebih SUKSES dari hari kemarin.
Kunjungi Versi Mobile KLIK http://blocknotinspire.blogspot.com/?m=1 atau ( KLIK DISINI )

Masalah Siapa Takut?

Dengan berlimpahnya informasi dan akses ke berbagai media, mata kita betul-betul jadi semakin terbuka lebar terhadap adanya berbagai masalah. Kita semakin menyadari bahwa tiada hari di mana kita terbebaskan dari ‘masalah’, baik yang baru mencuat atau ‘cerita lama’ yang tidak kunjung terselesaikan. Mulai dari masalah politik, sosial, budaya, ekonomi, juga hankam. Mulai dari yang ringan sampai yang pelik. Mulai dari yang ‘lokal’ seperti pembangunan jalur busway, angin puting beliung, konglomerasi, monopoli,  lumpur lapindo, sampai yang ‘global’, seperti melonjaknya harga minyak, politik dunia, juga perubahan cuaca akibat pemanasan global. Akibatnya, masyarakat kita kini semakin waspada dan sadar tentang transparansi, juga semakin mendesak menyuarakan urgensi terhadap penyelesaian berbagai masalah yang ada. 


Kaya

Diuntungkan oleh adanya berbagai milis di internet, kita bisa “menonton” hal-hal yang oleh mayoritas kita tidak pernah kita alami. Salah satu kabar tergres dari sebuah milist menggambarkan:”Di tengah kemiskinan yg menggerogoti bangsa ini, tiga menteri dan ratusan pengusaha kakap hadir di Singapura untuk menghadiri acara pernikahan seorang konglomerat kelas kakap Indonesia. Daya pikat pesta tak sebatas lagu-lagu nostalgia, kristal, semerbak bunga dan kaviar hitam dari Laut Kaspia, tapi juga dengan diperlihatkannya berlian-berlian superlangka. Tak berlebihan kalau ada yang berbisik bahwa inilah pesta taipan terbesar di awal Tahun Tikus.”  Entah bagaimana kita masing-masing menyikapi realita semacam ini. Mungkin ada yang  merasa  seperti seorang anak membaca buku princess dengan sepatu kacanya atau seperti seorang gadis  remaja yang berada di depan etalage butik Hermes dan tidak berangan-angan apa pun, seperti memiliki  tas, sepatu, baju  puluhan juta rupiah itu, karena realita itu “terlalu jauh” dan tidak terbayangkan olehnya. Pertanyaannya, kalau kesenjangan sebegitu jauh, tidak mungkinkah kita yang biasa-biasa ini merasa kaya? Tentunya kita sama-sama mengerti bahwa kesenjangan  kaya miskin di negara kita sangat besar. Tetapi bukankah itu hanya mengacu pada satu ukuran, yaitu finansial?


Menjadi Pelanggan Prima

 Ketika mengantri panjang di sebuah bank, sekedar untuk mendapatkan “print out” rekening,  saya melihat salah seorang customer service officer menghampiri seorang ibu secara “super-hormat”, mengajak ibu tersebut keluar antrian dan melayaninya secara khusus. Belum sempat terpikirkan oleh saya untuk memprotes atau bertanya-tanya, saya mendengar celetukan orang di depan saya, “Yah, itu pasti pelanggan “prima” yang tabungannya milyaran. Kalau kita-kita ini ya, sabar saja menunggu”. Saya jadi bertanya-tanya, apakah seorang pelanggan “biasa” tidak berhak mendapatkan pelayanan yang cepat, mudah dan tepat?


Kematangan

Ketika diminta oleh lembaga keuangan paling bergengsi di negara kita ini untuk mendefinisikan ‘maturitas’ alias ‘kematangan’, dalam rangka seleksi calon pimpinan, dengan fasih saya mendeskripsikan lima persyaratan kematangan pribadi yang saya pelajari dari almarhum dosen Psikologi Kepribadian di universitas, yaitu: berpikir obyektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab, serta mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang. Bagi saya, materi ini adalah hafalan utama yang sudah tertanam sejak di awal bangku kuliah. Namun kemudian, saya berpikir sendiri, mengapa hal ini diangkat ketika ada pemilihan calon pemimpin? Ada apa dengan kematangan para eksekutif kita?


Hemat Tapi Gaya

Dapatkan satu set dapur ‘branded’, ditambah satu jaket kulit eksklusif, bila Anda membeli apartemen sebelum akhir bulan ini”, “Bagi putra-putri Anda, mainan kecil selama penerbangan”. Serbuan promosi ini, kesemuanya ditanggapi oleh kita-kita, baik yang kaya maupun miskin, yang perlu ataupun tidak memerlukan, dengan ungkapan:”Kenapa tidak?”. Apakah sesudah itu jaket maupun mainan dibuang ke tong sampah karena tidak cukup “berharga” untuk disimpan, itu urusan lain. Yang penting, kita “mendapatkan”-nya.


Gunung Es Komunikasi

Ketika dalam sebuah tim kerja saya berusaha mencari tahu alasan mengapa tim tersebut tidak tumbuh menjadi sinergi yang optimal, pada umumnya anggota-anggota tim mengatakan bahwa mereka bekerja secara “Baik-baik saja, tidak ada masalah”. Namun, seorang rekan mempunyai jawaban yang sedikit berbeda dari teman-temannya. Ia berkomentar, “Kalau hubungan kerja kita tidak ada masalah, bu. Secara pekerjaan kita cocok satu sama lain, tapi dalam hubungan pertemanan, kita belum tentu cocok.” Kembali, saya tertampar oleh kenyataan dalam praktek sehari-hari, bahwa banyak proses di bawah alam sadar kita yang sedang berlangsung ataupun macet, bahkan menjadi penghambat dari proses-proses sederhana yang masuk akal  sehari-hari.


Stop Olok-olok

Saya baru tersadar betapa bangsa kita gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri. Ketika dalam kelas training saya menanyakan apa pendapat peserta tentang acara kolosal kebangkitan nasional yang saya juluki bertema “Indonesia bisa!”, sebagian orang mengomentari penyanyi yang gagal, yang lain secara jenaka memperagakan latihan tenaga dalam yang kurang sukses. Sementara anggota keluarga saya, secara lengkap, tua-muda, menikmati acara tersebut, terharu-biru begitu dikumandangkannya lagu Indonesia Raya oleh si Putra Papua, Edo Kondologit, dan merasa termotivasi untuk bangkit dari kesulitan, namun di sisi lain ternyata banyak orang yang melihat tontonan ini dari sudut pandang yang sangat “ringan dan lucu”. Kenyataan ini dilanjutkan, ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok juga, ditanggapi oleh sahabatnya dengan ungkapan, ”Bukannya Bangsa Indonesia memang biasa berkomunikasi dengan cara ‘olok-olok’ seperti ini?”.Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa jadi membuat kita terjebak pada ‘self-fulfilling prophecy’, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melalui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa yang bodoh”, “Otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai”, “pemberantasan korupsi tidak akan tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan, action plan pribadi, kelompok maupun perusahaan secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri frustasi dan mulai memaki diri sendiri, bahkan melahirkan ‘lingkaran setan’ yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-oloklah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini perusahaan sendiri, lembaga pemerintah sendiri, ataupun Negara sendiri.


Cuek terhadap Waktu-BOM Waktu

“The bad news is time flies. The good news is you``re the pilot” (Michael Althsuler) 

Sudah hampir satu setengah jam berlalu dari waktu yang dijanjikan, namun klien penting yang saya tunggu (dan saya pikir tengah mengharapkan kehadiran saya), belum juga ada tanda-tandanya akan datang. Handphone beliau off. Staffnya tak bisa memastikan apakah pimpinannya masih lama datang atau sebentar lagi. Memang ini bukan yang pertama kali terjadi, tapi tetap saja situasi begini bikin saya bengong. Ketika akhirnya bertemu, beliau muncul dengan sumringah. Tidak tampak, apalagi terucap, penyesalannya membuat saya menunggu hampir dua jam. Pun tidak tampak bekas-bekas adanya kondisi urgen yang membuatnya terlambat. Jelas, ini hal biasa untuknya. 


Berani Susah

Salah satu karyawan di kantor saya, benar-benar sulit mengkontrol pengeluarannya. Ia tidak bisa lepas untuk melakukan gali lobang tutup lobang dalam me-manage hutangnya. Hutang itu mula-mula dipinjam dari sebuah jasa kredit tanpa agunan bank dan berkembang menjadi hutang yang lain, terutama untuk menutupi hutang yang lama. Ketika saya sangat kecewa melihat hal itu bisa dilakukan oleh orang yang selama ini saya percaya, teman saya mengatakan bahwa ibu mertuanya juga terbelit hutang dengan cara yang sama. Terkesan bahwa di antara kita sudah banyak kebiasaan mencari solusi yang  “ambil gampangnya”, “instan”, dan tidak mau sedikit bersusah mengerem diri. Saya terkagum-kagum juga dengan cara mendapatkan hutang yang begitu mudah di saat sekarang. Di jaman ketika saya sangat membutuhkan modal atau uang lebih, rasanya tidak mungkin kita bisa dengan mudah mendapatkan pinjaman dari bank atau orang lain, bahkan dengan janji bunga yang relatif rendah. Rupanya perkembangan bisnis jasa sudah demikian pesatnya sehingga masyarakat “dimudahkan” dan “dimanjakan” oleh solusi-solusi sementara, “fast and easy”, instan,  yang tidak prinsipiil lagi.


Jeffrey P Bezos Raja Bisnis Buku Online

Selama ini, jika kita hobi membaca, seringkali toko buku menjadi salah satu daftar toko yang wajib dikunjungi. Namun, berkat perkembangan teknologi informasi, utamanya sejak era dotcom berkembang, kita tak perlu susah-susah lagi antri di toko buku. Tinggal buka situs di internet, pilih buku yang diinginkan, sekali dua kali klik, buku sudah terkirim langsung ke alamat kita. Sangat praktis dan bebas dijamin bebas antri. Bahkan, tak jarang kita mendapatkan harga yang lebih murah dari membeli dari toko. Karena itu, hadirnya situs penjualan buku online dianggap sebagai sebuah solusi yang sangat tepat di era yang serbainstan dan serbacepat ini. 


Michael Jordan Sang Legenda Basket

Dunia olahraga mengenal beberapa nama sebagai legendanya masing-masing. Tinju ada Mohammad Ali. Sepakbola ada Pele dan Maradona. Golf ada nama Tiger Woods. Balap F1 ada Michael Schumacher. Dan, di bola basket, ada satu nama yang dianggap paling berpengaruh hingga sekarang, Michael Jordan. 

Untuk satu nama terakhir, meski sudah pensiun dari olahraga yang membesarkan namanya, namun dirinya seolah tak tergantikan. Beberapa nama yang dianggap sebagai
the next Jordan-di arena basketball Amerika, NBA-tetap tak bisa menggantikan ketenarannya. Nomor kaosnya-23-hingga kini juga digantung di langit-langit hall of fame sebagai bentuk penghargaan atas prestasinya.


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More