
Saya baru tersadar betapa bangsa kita gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri. Ketika dalam kelas training saya menanyakan apa pendapat peserta tentang acara kolosal kebangkitan nasional yang saya juluki bertema “Indonesia bisa!”, sebagian orang mengomentari penyanyi yang gagal, yang lain secara jenaka memperagakan latihan tenaga dalam yang kurang sukses. Sementara anggota keluarga saya, secara lengkap, tua-muda, menikmati acara tersebut, terharu-biru begitu dikumandangkannya lagu Indonesia Raya oleh si Putra Papua, Edo Kondologit, dan merasa termotivasi untuk bangkit dari kesulitan, namun di sisi lain ternyata banyak orang yang melihat tontonan ini dari sudut pandang yang sangat “ringan dan lucu”. Kenyataan ini dilanjutkan, ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok juga, ditanggapi oleh sahabatnya dengan ungkapan, ”Bukannya Bangsa Indonesia memang biasa berkomunikasi dengan cara ‘olok-olok’ seperti ini?”.Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa jadi membuat kita terjebak pada ‘self-fulfilling prophecy’, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melalui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa yang bodoh”, “Otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai”, “pemberantasan korupsi tidak akan tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan, action plan pribadi, kelompok maupun perusahaan secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri frustasi dan mulai memaki diri sendiri, bahkan melahirkan ‘lingkaran setan’ yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-oloklah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini perusahaan sendiri, lembaga pemerintah sendiri, ataupun Negara sendiri.