blocknotinspire.blogspot.com berisi Kumpulan Business Ethics, Business Tips, Inspire Spirit, Leadership and Culture , Love and Life, Management HR, Motivasi Spirit, Smart Emotion, Success Story, Tips Keuangan, Tips Marketing dan Tips Sehat Semoga Bisa Menjadikan Anda lebih SUKSES dari hari kemarin.
Kunjungi Versi Mobile KLIK http://blocknotinspire.blogspot.com/?m=1 atau ( KLIK DISINI )

Raam Jethmal Punjabi, Raja Sinetron

Perjuangannya dimulai dari titik nol. Dia raja sinetron penjual mimpi bertangan dingin. Dia dipuji sebagai penyelamat industri film Indonesia, di sisi lain ia dianggap menjual mimpi. Tapi ia konsisten dengan apa yang dikerjakannya. Kota Pahlawan memberinya banyak kenangan dan inspirasi untuk meraih sukses.

Kota Surabaya di pertengahan tahun 1950-an, akan terus terpatri dalam ingatan seorang laki-laki keturunan India. Tentang seorang bocah kecil belasan tahun bernama Raam yang menyelinap ke dalam sebuah bioskop untuk memuaskan kegandrungannya menonton film. Sang penjaga bioskop yang baik membantu menyelundupkannya masuk ketika lampu-lampu sudah dipadamkan dan membantunya keluar sebelum lampu-lampu menyala kala film usai.

Laki-laki itu, Raam Punjabi, adalah si bocah yang gandrung film. Kini, ia tak lagi harus menyelundup diam-diam hanya untuk menonton film-film yang disukainya. Dialah yang kini disebut-sebut merajai dunia sinetron di televisi. Berbagai film dan sinetron yang sukses lahir dari tangan dinginnya.

Diakuinya, ketertarikan anak ketiga dari tujuh putra-putri pasangan Jethmal Tolaram Punjabi dan Dhanibhai Jethmal Punjabi ini pada dunia perfilman sudah dirasakannya sejak ia masih kecil. Hobinya yang paling menonjol tentu saja menonton film dan ia punya kebiasaannya keluar masuk bioskop.

Dalam beberapa hal, persahabatan itu seperti cerita film “Cinema Paradiso” karya Tornatore, sebuah film indah tentang kenangan. Bedanya, di dalam “Cinema Paradiso”, persahabatan terjalin antara si bocah dan proyeksionis, sedangkan pada Raam kecil dengan penjaga pintu.

Raam pun berkisah, ”Pernah imbalannya saya boleh menonton, tetapi si penjaga pintu pinjam sepeda saya. Eh, sampai film selesai pukul dua belas malam, dia tidak kembali. Saya pulang ke rumah dimarahi Ayah.”

Tentu saja hal itu tidak membuatnya kapok. Ia kembali pergi ke bioskop, menemui sahabatnya si penjaga pintu dan menyelundup ke dalam bioskop setelah lampu padam.
Raam mengenang masa kecilnya di Surabaya sebagai masa yang indah dan penuh romantisme. Rumah orangtuanya terletak di kawasan Pasar Besar. Rumah itu merangkap toko ayahnya. Di lantai bawah, sang ayah berjualan karpet. Raam juga masih ingat, di masa itu masih ada trem atau kereta listrik sebagai alat transportasi yang digemari masyarakat di kotanya. 
Pengalaman yang selalu membuatnya geli selain menonton bioskop diam-diam adalah mencuri mangga yang pohonnya berada di halaman sebuah rumah sakit. Kesukaannya pada film juga disalurkannya dengan ikut serta menonton film gratis yang diputar khusus untuk tentara.

Pencipta tren
Raam Jethmal Punjabi lahir di Surabaya, 6 Oktober 1943. Awalnya ia tidak serta merta berkecimpung di dunia perfilman. Dari tahun 1962-1963, ia bekerja di sebuah perusahaan tekstil. Pada tahun 1964 ia merintis sebuah usaha impor tekstil sampai pada akhirnya pada tahun 1969 ditinggalkannya.

Pada tahun 1967, Raam bersama dua kakaknya Dhammoo Punjabi dan Gobind Punjabi mendirikan perusahaan importir film, PT Indako Film dengan modal Rp 30 juta. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan PT Panorama Film (1971-1976) yang bersama PT Aries Internasional Film memproduksi film “Mama” karya sutradara Wim Umboh.

Film yang dibuat tahun 1972 itu merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan seluloid 70 milimeter, tapi kurang laku ketika dilempar ke pasar. Tak putus asa, Raam kembali memproduksi film “Demi Cinta” yang dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati. Lagi-lagi film produksi keduanya ini termasuk biasa-biasa saja dalam peredarannya. Namun bintang terang menyinarinya saat memproduksi film ketiga berjudul “Pengalaman Pertama.” Film ini dibintangi Roy Marten, Yatie Octavia, dan Robby Sugara.

Saat ini Raam Punjabi menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri & Festival di Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Ia dikenal bisa membaca selera pasar dan menjadi trend setter perfilman. Pada tahun 1980-an ketika kondisi perfilman Indonesia sedang terpuruk, Raam malah sukses menelurkan film komedi di jagat perfilman Indonesia dengan menampilkan bintang komedi pada saat itu trio Warkop (Warung Kopi) yaitu Dono, Kasino dan Indro. Malah sejak itu film komedi menjadi tren dan banyak produser mengekor membuat film-film komedi.

Tahun 1981, Raam mendirikan PT Parkit Film. Dan dalam jangka waktu 17 tahun karirnya sebagai produser, ia sudah memproduksi lebih dari 100 film. Bahkan, sekitar tahun 1989 kala kondisi perfilman Indonesia benar-benar hancur, Raam tidak kehilangan akal. Dengan segala daya kreatifnya, ia segera beralih ke dunia sinetron yang pada saat itu baru dikenal sebagai jenis tontonan baru. Kebetulan, di saat hampir bersamaan muncul stasiun televisi swasta pertama yaitu RCTI. 
Bagi Raam yang jeli, hal itu merupakan peluang yang baik bagi terobosannya. Terbukti kemudian, serial sinetron komedi “Gara-Gara”, yang dibintangi Lydia Kandou dan Jimmy Gideon yang diproduksinya sukses. Melambungkan kembali nama Lydia Kandou dan menambah ketenaran Jimmy Gideon tidak hanya sebagai pelawak, tetapi juga pemain sinetron komedi.

Kesuksesan demi kesuksesan mendorongnya mendirikan rumah produksi PT Tripar Multivision Plus dengan modal Rp 250 juta pada tahun 1990. Rumah produksi ini juga memproduksi sinetron-sinetron yang sukses digemari masyarakat.

Hingga tahun 2000-an tidak ada yang bisa menyaingi kebesaran Raam Punjabi dalam industri hiburan televisi, terutama film dan sinetron. “Film dan sinetron di Indonesia di bawah bayang-bayang keluarga Punjabi, dengan Raam yang berada di singgasana”, kata S. Sinansari Ecip dalam resonansinya di harian Republika, 28 Maret 2000.
Pada tahun 2004, Raam Punjabi menerbitkan biografinya yang berjudul “Panggung Hidup Raam Punjabi.” Buku itu memuat begitu banyak pengalamannya sampai menjadi sukses sebagai raja sinetron seperti sekarang.
Di satu sisi ia dipuji sebagai penyelamat industri film Indonesia, di sisi lain ia dianggap menjual mimpi. Tapi ia konsisten dengan apa yang dikerjakannya.

Berkunjung ke kantor Multivision Plus, rumah produksi Raam Punjabi, maka kita akan menemukan beberapa wajah jelita dan ganteng para artis sinetron yang tengah diproduksinya tengah mengurus masalah kontrak atau hal-hal lain di kantor itu.

Paras yang rupawan memang ciri khas yang begitu menonjol dan tak dapat ditanggalkan dari sinetron-sinetron yang diproduksi Raam Punjabi. Semua artis pemainnya memiliki paras yang cantik dan ganteng. Cerita-cerita sinetronnya kebanyakan tentang tokoh-tokoh berwajah rupawan dari kelas menengah ke atas dan jalinan kisahnya sendiri terkadang terlalu dibuat-buat dan jauh dari realita. Hal itu menyebabkan berbagai kritik dilontarkan pada sinetron hasil rumah produksinya. Namun Raam tidak bergeming.

Bukan sekali Raam dituduh sebagai ”penjual mimpi”. Diakuinya sendiri, artis yang main di sinetronnya, apa pun perannya, harus cantik. ”Jangankan artis, di kantor saya semua cantik-cantik,” katanya sambil tertawa.

Namun bukan berarti ia mau menerima tuduhan menjual mimpi.

”Kalau saya gagal dalam usaha, bisa nggak saya pasang tulisan di sini: Toko Penjual Mimpi. Tidak mungkin, kan? Adakah orang yang membeli mimpi? Tetapi, kalau saya taruh di situ Raam Punjabi Penjual Harapan, saya jamin banyak yang datang. Persentase mimpi menjadi kenyataan itu nol koma sekian persen, tetapi kalau harapan jadi kenyataan itu banyak,” katanya panjang lebar.

Menurutnya, istilah ‘menjual mimpi’ itu salah. Namun meski ia ingin sekali menjelaskan perbedaan antara mimpi dan harapan yang dimaksudnya, Raam mengaku tidak punya cara dan waktu untuk menyosialisasikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Ia hanya percaya pada karya dan perbuatan.
Apapun tuduhan orang, tidak bisa dipungkiri bahwa Raam amat konsisten dengan apa yang dikerjakannya. Itulah kunci kesuksesannya sebagai raja sinetron saat ini.

Bukan berarti apa yang dijalaninya terasa mudah. Raam pernah merasakan pahit getir dan susahnya kehidupan ketika usianya masih relatif muda. Di usia belasan, ayahnya meninggal dunia. Dengan restu ibunya, Raam muda nekat pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Awal kehidupan di Jakarta dia lalui dengan menjadi pegawai toko kain di kawasan Pasar Baru. Setelah itu, Raam mencoba berjualan sendiri dengan cara door to do. Barang yang dijualnya antara lain kemeja merek Arrow, juga lingerie alias pakaian dalam wanita.

Soal pengalamannya menjual lingerie inilah maka Raam sambil tertawa berkata, “Dengan hanya melihat luarnya, saya bisa tahu ukuran seorang wanita.”

Setelah menikahi Rakhee, Raam dan isterinya mengarungi pasang surut dunia perfilman. Pada awal tahun 1970-an, saat dunia perfilman Indonesia mulai ramai, Raam memulai debut dengan memproduksi film “Mama”. Film berbiaya besar yang disutradarai Wim Umboh itu ternyata gagal.

Disinilah konsistensi Raam diuji. Ternyata ia tidak pernah menyerah. Setelah terus mencoba, akhirnya kesuksesan diraihnya saat memproduksi film-film bergenre komedi. Film-film yang dibintangi Wakop DKI (Dono-Kasino-Indro) itu antara lain berjudul: “Dongkrak Antik”, “Maju Kena Mundur Kena”, “Gantian Dong”, sampai sekarang masih sering diputar ulang di televisi.

Zaman film layar perak berganti dengan sinetron dan Raam tetap survive. Sinetron “Gara-gara” yang sukses disusul sinetron komedi seperti “Tuyul dan Mbak Yul”, juga sinetron drama seri, diantaranya “Doaku Harapanku.”

”Di dunia hiburan, kalau mau bikin komedi Anda harus ciptakan salah pengertian. Kalau mau bikin drama percintaan, Anda harus ciptakan saling pengertian,” kata Raam.

Soal moralitas
Saat ini, dunia hiburan yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat adalah sinetron. Kegandrungan masyarakat di kota dan desa terhadap sinetron digerakkan oleh cita rasa yang sama. Baik film maupun sinetron, telah menjadi magnet yang menyedot kesadaran penontonnya. Ini budaya massa yang didalamnya terkandung ikon-ikon yang pengaruhnya menghujam kesadaran pemirsa.

Tanpa disadari apa yang disuguhkan sinetron kerap ditiru oleh penontonnya. Dari hal-hal yang ringan seperti mode pakaian, rambut, sepatu dan aksesoris sampai hal-hal yang patut dipertimbangkan seperti etika, moral dan tingkah laku.
Di tengah-tengah gempuran aneka judul sinetron yang diputar setiap hari, menjadi sulit menyaring mana sinetron yang berdampak baik maupun buruk bagi penontonnya.

Raam Punjabi, sang raja sinetron yang sinetronnya paling banyak bertaburan di televisi kemudian ikut dituding sebagai salah satu pihak yang ikut menyebabkan degradasi moral. Sinetron Raam kerap kali mengeksploitasi kemewahan gaya masyarakat urban kota metropolitan. Disusul kemudian, salah satu film Raam yang berjudul “Buruan Cium Gue” pernah menimbulkan polemik dan akhirnya dicabut dari peredaran.

Namun, Raam Punjabi berkilah pihaknya tidak pernah membuat produk sinematografi yang merusak moral bangsa Indonesia. Menurutnya, tidak ada satupun rumah produksi yang punya tujuan dan niat merusak moral dan akhlak bangsa, serta merusak jalan pikiran orang. Semua beranjak dari satu niat yang murni untuk memberikan hiburan dan sesuatu yang baik bagi masyarakat.

Raam menampik anggapan masyarakat bahwa produk sinetron dan film yang dia hasilkan hanya semata menjual kemewahan dan mimpi.

”Yang saya ingin bangkitkan adalah harapan dan semangat dan itu terlihat jelas dalam produk kita," ujarnya.
Menurut dia, wajar saja bila ada masyarakat yang menolak sinetron dan filmnya karena tidak sesuai dengan moral dan nilai-nilai ketimuran. Beda pendapat sah-sah saja dan selera berbeda itu tidak apa-apa. Kalau ada yang merasa produk itu tidak cocok dengan seleranya dan tidak mau menonton itu hak masing-masing.

Multivision Plus sesungguhnya tidak selalu memproduksi kisah-kisah bertabur kemewahan. Tahun 2001, mereka memproduksi sinetron serius yang diberi judul "Tiga Perempuan". Pemeran utamanya dipercayakan kepada Christine Hakim dengan sutradara Maruli Ara. Mereka juga pernah memproduksi sinteron yang berjudul "Bukan Perempuan Biasa", sebuah sinetron yang juga menampilan Christine Hakim sebagai pemeran utama di bawah arahan sutradara kondang Jajang Pamuntjak.

Raam hanya mencoba untuk membuat sinetron atau film yang disukai, diinginkan dan menjadi tren masyarakat sesuai dengan komitmennya memajukan industri sinetron dan film Indonesia.

Komitmen, semangat dan kegigihan dari seorang Raam Punjabi patut diteladani. Dari seorang penjual lingerie menjadi raja sinetron, bukankah itu sesuatu yang luar biasa? (e-ti/rh, dari berbagai sumber.)


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More