blocknotinspire.blogspot.com berisi Kumpulan Business Ethics, Business Tips, Inspire Spirit, Leadership and Culture , Love and Life, Management HR, Motivasi Spirit, Smart Emotion, Success Story, Tips Keuangan, Tips Marketing dan Tips Sehat Semoga Bisa Menjadikan Anda lebih SUKSES dari hari kemarin.
Kunjungi Versi Mobile KLIK http://blocknotinspire.blogspot.com/?m=1 atau ( KLIK DISINI )

Berpikir Kritis

Dengan maraknya milis dan forum diskusi yang berkomentar mengenai berbagai gejala, ada satu hal yang semakin berkembang yaitu sikap kritis individu. Ini tentu ada hubungannya dengan pendidikan dan sistem informasi yang semakin mudah di akses, sehingga siapa saja, asal mau, bisa mempertanyakan situasi, keputusan dan segala macam pernyataan dan fenomena yang ada. Bukan saja pertanyaan, ungkapan perasaan, ketidaksesuaian pendapat, bahkan tuntutan juga terdengar, terbaca dan terlihat. Simak saja wacana mengenai Arus Minyak Nasional, yang melibatkan protes mahasiswa, DPR, partai, badan eksekutif dan masyarakat banyak. Pertanda apakah ini? Selain demokrasi, kita bisa beranggapan bahwa generasi muda, yang akan menghadapi abad selanjutnya, sudah mempunyai daya pikir yang lebih “advanced”: “Good” thinking is an important element of life success in the information age” demikian Thomas & Smoot, 1994.


Kita pasti setuju bahwa kegitan berpikir adalah kegiatan yang super mulia dan merupakan anugerah Tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada mahluk lain di dunia ini yang bisa berpikir dengan cara secanggih manusia. Dengan adanya kegiatan berpikirlah manusia mampu menggambarkan isi dunia ini. Dan dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah diuji, di bolak balik dan dikulik di masyarakat kita, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berpikirnya.

Sikap Mental untuk Berbeda Pendapat

Aturan dan tata krama yang diajarkan orang tua dan guru kita dulu, misalnya untuk tidak membantah, tidak berdebat untuk menjunjung harmoni, kita sadari ternyata tidak selamanya menyuburkan cara berpikir. Kita sering lupa bahwa kita punya kewajiban untuk mengasah cara pikir kita, baik di sekolah maupun setelah keluar dari sistem pendidikan. Dalam perjalanan hidup, saya menyaksikan bahwa kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru dari di-”adu”-nya pendapat kita dengan kritik, pertanyaan, keraguan  orang lain, bahkan setelah perdebatan sengit. Yang paling penting, sikap mental kita juga perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik serta sanggahan.

Para ahli menyarankan agar berfokus pada isu dan bukan pada orangnya, sebagai landasan sikap rasional yang perlu dikembangkan dalam menembak masalah, menelurkan solusi, dan bukan mengumbar emosi serta kesalahan. Di sini, kita pun bisa mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih pendapat, karena kita tidak “sealiran” atau tidak menyukai individu yang berpendapat.

Saat sekarang, kita juga semakin sadar bahwa sekedar ‘asbun’ (asal bunyi, asal ngomong), tanpa berlatih bertanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya, malahan bisa menjatuhkan harga diri dan kewibawaan kita sendiri. Namun demikian, memang masih banyak kita temui orang yang berpendapat tetapi tidak bertanggung jawab, misalnya, seorang sales manager yang mengatakan:”…Di perusahaan ini, sistem administrasi kacau. Masakan  tanda terima barang bisa ditandatangani oleh seorang salesman tanpa diketahui oleh penerima barangnya…”  Pernyataan yang di lempar tanpa memikirkan follow up, sekedar menyulitkan orang lain dan tanpa disertai tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah pembuka diskusi yang sehat. Individu yang  ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intelektual, perlu berlatih mencermati gejala, tulisan, tindakan atau keputusan dengan hati-hati, ”dalam” dan berusaha mendapatkan ”point” dari isu tersebut. Seruan misalnya :”turunkan BBM”  , “turunkan harga sembako”  akan lebih intelek bila yang berseru sudah mempelajari , apakah gejala kenaikan BBM ini melulu disebabkan oleh korupsi atau gelaja yang mendunia.  Kita pun perlu  membedakan fakta dari pendapat, kasus dari gejala umum, membersihkan ”bias” selain juga tidak berpikir ”hitam putih” saja, dan  membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita  sebelumnya tidak tahu.

Pemikir Sehat

Individu , tidak terlepas berapa usianya, sering tidak menyadari kesalahan berpikirnya. Ada yang dari muda sampai tua tetap keras kepala. Ada juga yang tidak pernah sadar bahwa ia “sok tahu” , meyakini sesuatu tanpa pernah meng”update” ataupun mengecek kebenarannya lebih lanjut.  Banyak  juga orang berasumsi bahwa kekuatan berpikir berkorelasi besar dengan IQ, tingkat kecerdasan. Bila ada orang pintar berpendapat, orang cenderung meng-iya-kan, dan setuju.  Fenomena “tunduk pada yang cerdas” ini sering menumbuhkan sikap submisif dalam kegiatan mengasah cara fikir kita. Sebenarnya cara berfikir bisa dikembangkan dengan cara yang sangat simpel: memelihara kegiatan mempertanyakan, beranggapan bahwa setiap kebenaran itu sementara, dan bersikap “undogmatic” .Kegiatan ini sudah  bisa kita amati di acara acara debat di televisi maupun radio. Hanya saja, kalau benar benar ingin sehat kitapun perlu

menyadari  bahwa otak hanya bisa menyerap sedikit informasi dibandingkan informasi yang tersedia, mengenai suatu isu. Dengan keterbatasannya, otak sering melakukan ”oversimplifications” yang berakibat pada  penyaringan fakta, keterbatasan berpikir, dan bahkan tercampurnya fakta, asumsi, maupun keyakinan individu. Berarti, bila kita ingin diterima sebagai pemikir obyektif, kita pun perlu siap membuka pikiran seperti layaknya seorang anak sekolah,menyerap informasi sebanyak banyaknya, baru kemudian memilah dan menyaring sehingga  presisi, akurasi, relevansi, logika dan kedalaman bisa tercapai secara optimal.

Mendorong Pencerdasan Bangsa

Saat sekarang, di mana semakin marak sekolah nasional plus, universitas swasta yang harganya bahkan bersaing dengan universitas negeri, gratisnya biaya sekolah, sangat menjanjikan tercapainya pencerdasan bangsa. Sudah waktunya kita bisa berharap untuk berada di kancah berpikir yang obyektif , “terang” dan positif. Meskipun kebenaran  tidak disajikan begitu saja, tetap perlu dikorek-korek, dipikirkan, diendapkan dan dicocokkan, namun kita sudah boleh berharap berdiskusi dalam tingkatan yang sama, tidak meraba dalam gelap, penuh kerendahan hati tetapi tetap siap untuk memodifikasi alam pikir kita. Dengan cara inilah kita maju dan jadi pintar, sambil tetap perlu mempunyai ‘ruang’ untuk berpikir inovatif dan kreatif. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri)

  (Ditayangkan di KOMPAS, 5 Juli 2008)


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More