blocknotinspire.blogspot.com berisi Kumpulan Business Ethics, Business Tips, Inspire Spirit, Leadership and Culture , Love and Life, Management HR, Motivasi Spirit, Smart Emotion, Success Story, Tips Keuangan, Tips Marketing dan Tips Sehat Semoga Bisa Menjadikan Anda lebih SUKSES dari hari kemarin.
Kunjungi Versi Mobile KLIK http://blocknotinspire.blogspot.com/?m=1 atau ( KLIK DISINI )

Mengelola Keuangan Si Lajang

Setelah menulis di NOVA sekitar tiga setengah tahun, saya sering menerima "protes" dari yang masih lajang. Katanya, tulisan di rubrik ini lebih banyak untuk yang berkeluarga. Oke kali ini, tulisan untuk Anda yang masih lajang. Namun bagi yang sudah berkeluarga pun tak salah untuk membacanya.

Cara mengelola keuangan bagi para lajang sebenarnya tak jauh beda dengan yang sudah berkeluarga. Hanya kondisinya dan perilaku saja yang beda. Misalnya, perilaku belanja. Para lajang tak perlu pertimbangan kiri-kanan jika ingin membeli sesuatu. Namun bagi yang sudah berkeluarga pasti akan minta pertimbangan pasangannya dulu. Apalagi jika uang yang dikeluarkan cukup banyak. Selain itu, ketika sudah berkeluarga, seseorang akan lebih barhati-hati membelanjakan uangnya lantaran ada yang mengingatkan.


Iwan Tirta, Pengusaha dan Perancang Busana

Jika beberapa waktu lalu kita merasa tidak nyaman dengan pengakuan negara tetangga kita, Malaysia, atas kepemilikan budaya asli kita. Maka, yang pantas kita tanyai sebenarnya adalah diri kita sendiri. Sudah seberapa cintakah kita pada produk asli negeri ini. Batik misalnya. Hal ini diungkap oleh seorang desainer dan pelestari seni batik asli Indonesia, Iwan Tirta. Perancang busana batik yang karyanya sudah dipakai oleh banyak petinggi dunia ini mengatakan bahwa sebenarnya justru kitalah yang kurang maksimal dalam mengenalkan seni batik ini ke dunia internasional.


Pesan Pulang Untuk Pedro

Pesan Pulang Untuk Pedro. Para pendengar yang setia, menurut Anda, apakah krisis terbesar pada abad ini ? Bunda Teresa dari Calcuta punya jawabannya. Menurutnya, krisis terbesar pada abad ini adalah krisis cinta kasih. Lebih lanjut, menurut Bunda Teresa, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan melayani mereka-mereka yang miskin dan terlupakan, ia mengatakan ‘Jauh lebih buruk dari kemiskinan, adalah kehampaan dalam hidup, kosong dan menyadari tidak ada seorangpun yang mengasihi diri kita’. Itulah krisis terbesar abad ini.


Secangkir Teh Pembawa Sial

Tak seperti biasa sebut saja Budi ( bukan nama sebenarnya ) memulai harinya dengan wajah yang lesu. Semalam ia harus menyelesaikan tugas mata kuliah karena memang esok adalah hari terakhir mengumpulkannya. Raut lesu dan sayup terlihat jelas karena baru jam 3 pagi ia baru bisa terlelap. Padahal jadwal kuliah dimulai pukul delapan pagi.

Pagi itu, sang ibu yang memaksa Budi untuk bangun dan tak lupa ibunya menyiapkan sarapan ala kadarnya untuk keluarga. Menjadi kebiasaan dikala pagi, Budi sekeluarga sarapan bersama.


Cara Seimbangkan Cinta & Pekerjaan

Pekerjaan dan kesibukan tiap harinya membuat Anda dan pasangan melupakan keintiman. Rasa letih setelah bekerja seharian seringkali menjadi alasan Anda berdua untuk mengesampingkan waktu bersama.

Untuk menghindari hilangnya keintiman, ada beberapa strategi untuk menyeimbangkan kehidupan cinta dan pekerjaan. Ini dia tiga cara sederhana yang bisa membantu Anda mengatasi masalah waktu antara cinta dan pekerjaan, seperti yang dikutip dari sheknows.


Rasa Tanggung Jawab

Suatu hari, seorang tenaga marketing di bidang keuangan mengeluh dengan putus asa. "Seumur hidup saya akan merasa bersalah karena telah menyebabkan nasabah rugi besar. Apalagi jika sampai ada yang meninggal karena itu. Aduh rasanya saya mau mati saja," katanya. Perusahaan tempatnya bekerja ternyata tidak mampu mengembalikan uang nasabah, sesuai perjanjian. Bukan hanya bunga yang tidak dibayar, bahkan pokoknya pun telah menyusut hingga 20 persen karena situasi market yang bergejolak turun. 


Menikmati Pekerjaan yang Tidak Anda Sukai

Kalau semua orang, setelah lulus dari universitas, lantas mendapatkan pekerjaan sesuai dengan harapan dan cita-citanya, maka betapa indahnya hidup ini. Tapi, hal seperti itu hanya terjadi dalam dunia ideal. Sedangkan dalam kenyataan sehari-hari, kehidupan lebih sering berjalan jauh dari situasi yang kita idealkan. Sudah bukan cerita baru lagi kalau banyak lulusan teknik yang akhirnya, karena berbagai faktor dan keadaan yang memaksa, bekerja di bank atau lulusan pertanian ujung-ujungnya menjadi wartawan. 

Barangkali Anda termasuk karyawan yang diam-diam merasa tidak menyukai pekerjaan Anda. Penyababnya bisa banyak hal. Namun, apa pun itu, yang jelas itulah kenyataan yang Anda hadapi saat ini. Berhentilah mengeluh, dan mulailah untuk belajar menyadari bahwa Anda tidak bisa terus-menerus buang-buang waktu dengan menyesali apa yang telah terjadi. Sebab, kadang, pada kenyataannya, sebanyak apa pun keluhan Anda toh, keberanian untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain yang sesuai keinginan, tak kunjung Anda miliki.


Makin Ruwet Otak Menandakan Makin Pintar

Sebagian besar masyarakat sering mendengar istilah bahwa semakin ruwet saraf-saraf yang ada di otak maka akan membuat seseorang semakin pintar. Tapi benarkah kabar tersebut?

Setiap otak manusia selalu berevolusi dan akan tumbuh lebih besar untuk mengakomodasi semua fungsi-fungsi di dalam tubuh. Kondisi inilah yang membedakan otak manusia dengan hewan.

Pada otak manusia yang normal ada sebuah alur besar yang disebut dengan fissures, alur kecil yang disebut dengan sulci dan lipatan luar yang disebut dengan gyri yang mengikuti pola setiap orang.

Otak manusia akan melakukan perubahan ketika seseorang belajar. Para peneliti menemukan ketika seseorang belajar sesuatu atau menerima rangsangan maka sinapsis (hubungan antar neuron) dan sel-sel darah akan mendukung pembentukan neuron dan meningkatkan jumlah sinapsis yang ada.


Raja yang Menjadi Tukang Kebun

Alkisah adalah seorang raja yang sangat besar kekuasaannya. Oleh karena kehidupan yang mewah dan serba cukup tidak membuat ketenangan kepada jiwanya. Sang raja akhirnya memilih untuk hidup sebagai rakyat biasa dengan menyamar sebagai tukang kebun.

Sang Raja akhirnya bekerja di salah seorang saudagar kaya yang mempunyai kebun delima yang cukup luas. Ia pun menjaga kebun itu dengan patuh dan rajin. Suatu hari datanglah tuan kebun itu dan meminta pekerja kebun membawakan sebiji delima yang masak lagi manis kepadanya. Pekerja itu pun segera menuju ranting-ranting delima untuk mencari buah delima yang paling masak.

Kemudian tuannya memakan delima tersebut, air mukanya berubah. Kemudian berkata: "Wahai pekerjaku tolong bawakan kepadaku sebiji delima yang lebih manis dari ini."


Mengatasi Rasa Malas di Tempat Kerja

Rasa malas kerap digambarkan sebagai hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan. Ini merupakan sejenis penyakit mental yang dapat berakibat buruk dan sangat merugikan. Perasaan malas dapat menyebabkan kinerja seseorang menjadi kacau karena tidak mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Segala macam kesuksesan tidak akan menghampiri bila penyakit ini masih menempel dalam diri seseorang.

Menurut Edy Zaqeus, rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu. Yang termasuk dalam keluarga besar malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda pekerjaan, dan mengalihkan diri dari kewajiban. Malas berdampak terhadap produktivitas kerja. Karena malas, seseorang menjadi tidak produktif bahkan mengalami stagnasi. Badan terasa lesu, semangat dan gairah menurun, ide pun tak mengalir. Akibatnya, kita tidak mempunyai kekuatan apa pun untuk bekerja secara optimal. Jika dibiarkan berlarut-larut, penyakit malas akan semakin ‘kronis’.


Mempromosikan Diri tanpa "Menjilat"

Banyak cara untuk mencari perhatian di tempat kerja, baik itu dari teman-teman satu tim maupun dari atasan. Siapa sih yang tak ingin kelihatan menonjol di mata orang lain. Lebih-lebih dalam konteks pekerjaan, "menonjol" bisa membantu mempercepat kemajuan karier. Namun, berhati-hatilah. Keinginan yang terlalu menggebu untuk terlihat paling menonjol di antara yang lain di kantor, salah-salah bisa membuat Anda "over-acting". Bila ini terjadi, bukannya simpati atau penilaian yang positif yang Anda dapatkan melainkan justru label buruk, misalnya Anda bisa dicap sebagai penjilat. Memangnya Anda mau mendapatkan penghargaan sebagai The Most Likely to Kiss Some Boss Butt? 

Oleh karenanya sebelum Anda beraksi di tempat kerja, pastikan dulu Anda mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More